Adsentra

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Maret 2010

Adakah Penyakit Masuk Angin?


Jakarta, Pengendara motor yang tidak menggunakan jaket, penjaga siskamling atau orang yang kehujanan sering merasa dirinya masuk angin dengan gejala perut kembung, badan pegal. Sebenarnya adakah penyakit masuk angin itu?

"Tidak ada istilah masuk angin dalam ilmu kedokteran," kata dr Kartono Mohamad, mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) saat dihubungi detikHealth, Jumat (12/3/2010).

Dunia kedokteran tak pernah mengenal istilah 'masuk angin'. Gejala-gejala yang ditimbulkan seperti perut kembung, nyeri otot, pusing, sakit tenggorokan, bersin-bersin, sampai batuk dan pilek merupakan gejala-gejala dari penyakit lain. Penyakit yang diderita bisa bermacam-macam tergantung gejalanya.

Perut kembung secara kedokteran didiagnosa sebagai gejala maag atau adanya ganggguan lambung dan gangguan pencernaan lainnya.

Sedangkan pusing, sakit tenggorokan, bersin, batuk dan pilek bisa merupakan gejala flu. Badan pegal atau nyeri otot bisa disebabkan karena orang tersebut terlalu capek dan kurang istirahat.

"Jadi tak ada yang namanya masuk angin. Masuk angin hanyalah kosakata yang diciptakan oleh masyarakat kita," tegas dr Yuni Astuti, dokter yang praktik di Puskesmas Kramat Jati saat dihubungi detikHealth, Jumat (12/3/2010).

Kebanyakan orang mendiagnosa sendiri bahwa dirinya masuk angin. Ketika masuk angin mereka memilih pengobatan dengan cara 'kerokan'. Selain lebih mudah, kerokan dianggap lebih manjur daripada harus mengonsumsi obat-obatan.

dr Kartono menjelaskan bahwa sebenarnya kerokan hanyalah mengalihkan rasa sakit yang diderita pasien, tetapi tidak bisa mengobati penyakit itu. Kerokan dapat menyebabkan aliran darah ke kulit lebih lancar, sehingga badan akan merasa lebih segar.

"Kerokan prinsipnya sama dengan bekam," kata dr Yuni. Kerokan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi dengan baik atau yang banyak mengandung CO2 akibat polusi. Sehingga dengan teknik kerokan, dapat mengeluarkan uap-uap polusi dalam darah dan orang akan merasa lebih enakan.

Kerokan biasanya dapat menimbulkan ketagihan atau kecanduan. Orang yang sudah terbiasa dikerok merasa belum baikan jika belum menjalani ritual itu. Tapi menurut dr Yuni, terlalu sering melakukan kerokan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang masih berfungsi dengan baik, dan hal ini bisa membahayakan kesehatan.

dr Yuni menyarankan, sebaiknya orang yang mendiagnosa dirinya masuk angin berkonsultasi dengan dokter, agar tidak terjadi kesalahan diagnosa dan akhirnya malah memperparah penyakit yang dideritanya.

(mer/ir)

Jumat, 19 Juni 2009

Bahaya di Balik Nikmat Soft Drink

VIVAnews - Minuman bersoda atau soft drink menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan. Hampir setiap rumah makan atau restoran cepat saji menampilkan minuman bersoda di daftar menunya. 

Tapi tahukah Anda, di balik kenikmatan minuman berkarbonasi itu, ada bahaya yang mengancam kesehatan tubuh. Berikut sejumlah penyakit yang dapat terpicu akibat sering mengonsumsi minuman bersoda,

Obesitas 
Kandungan gula artifisial dalam minuman bersoda memicu kegemukan atau obesitas. Kondisi ini meningkatkan risiko sejumlah penyakit seperti diabetes, jantung, stroke, kanker, hingga 85 persen. 

Batu Ginjal 
Tingkat keasaman minuman bersoda yang cukup tinggi ini meningkatkan ekskresi kalsium dalam urin. Luruhnya kalsium inilah yang kemudian mempengaruhi pembentukan batu ginjal. Kalsium yang terkonsentrasi dalam darah juga memicu risiko penyakit jantung. 

Osteoporosis 
Selain memiliki sifat candu, kandungan kafein dalam minuman bersoda juga menyebabkan asupan kalsium rendah. Kondisi ini sangat berperan mengakibatkan pengeroposan tulang atau osteoporosis. Bahkan pada anak-anak, terlalu banyak mengonsumsi minuman bersoda membuat tulang rapuh dan mudah patah. 

Karies Gigi
Kandungan gula minuman bersoda dapat merusak struktur gigi dan mengakibatkan gigi berlubang. Para ahli kesehatan menyarankan untuk berkumur dengan air putih setelah mengonsumsi minuman bersoda untuk menghilangkan kandungan gula yang menempel pada email gigi. 

Minuman bersoda merupakan minuman yang dibuat melalui proses karbonasi dengan penginjeksian gas-gas CO2. Proses inilah yang menciptakan gelembung-gelembung menyegarkan pelepas dahaga. 

Minuman karbonasi terdiri dari 90 persen air. Sisanya kombinasi dari pemanis buatan, gas C02, pencita rasa, pewarna, asam fosfat, kafein, dan sejumlah mineral lain.

Deteksi Penyakit Lewat Mata

Mata merah tak sembuh-sembuh? Bisa jadi ada gangguan kesehatan yang belum terdeteksi.

VIVAnews - Mata adalah jendela hati, tapi ternyata bagi dokter mata adalah ‘jendela’ untuk melihat kesehatan Anda. Kondisi mata Anda dapat memberikan petunjuk penyakit yang tersembunyi atau ancaman gangguan kesehatan lainnya. 


Ahli mata, Oliver Backhouse, dari Rumah Sakit Mata Yorkshire, Inggris: “Lain kali Anda bercermin, coba perhatikan lebih cermat. Jika ada yang mencurigakan, seperti warna retina, bentuk pupil dan area mata, ada baiknya memeriksakan ke dokter.

Berikut tanda-tanda yang bisa Anda cermati:
- Mata merah: 
a. Bisa menjadi tanda Anda terlampau banyak mengonsumsi alkohol, bisa memperlebar pembuluh darah di mata, sehingga membuatnya berwarna merah. Mata merah berarti terdapat peradangan pada mata.
b. Penyebab lainnya bisa karena alergi, terlalu lama menatap layar komputer, dan mata terpapar air kaporit di kolam renang. 

Infeksi ringan dan iritasi seperti radang mata dan blepharitis dapat menyebabkan peradangan dan iritasi mata. Penting untuk mengindentifikasi penyebab akurat, karena pengobatannya juga berbeda. Iritasi mata ringan ini bisa diobati dengan obat tetes yang dijual bebas. Untuk alergi, solusi simpel adalah dengan air mata buatan yang dijual di apotek. 

- Ada benjolan kecil berwarna kuning di kelopak mata 
Keadaan yang biasa disebut xanthelasma ini bisa menjadi gejala tingkat kolesterol di tubuh Anda cukup tinggi. Gangguan ini bisa diatasi dengan obat penurun kolesterol atau mengubah pola makan Anda menjadi lebih sehat.

- Bagian tengah pupil berwarna putih 
Kondisi ini bisa menjadi tanda-tanda awal atau Anda berisiko tinggi mengalami katarak. Sebaiknya jangan terlampau sering terkena paparan matahari, dan stop merokok. Katarak pada akhirnya bisa menyebabkan kebutaan jika tidak ditangani. Jadi, segera konsultasikan ke dokter mata.

- Terdapat bintik putih di tengah kornea
Jika bintik putih pada mata ini menetap lama, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter. Kondisi ini bisa menunjukkan tumor otak, atau retinoblastoma (kanker mata yang lebih sering menyerang anak-anak).

- Lingkaran putih di seputar iris
Kondisi ini bisa menandakan gejala serangan jantung. Meski lingkaran ini bisa muncul seiring usia Anda bertambah. Tapi, jika kondisi mata Anda seperti ini ketika usianya masih di bawah 60 tahun, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

Senin, 11 Mei 2009

18 Cara Cegah Asma Kambuh

JAKARTA -- Penyakit asma tidak bisa disembuhkan, namun dapat dicegah dengan cara menghindari pencetusnya. Bagi orangtua yang merokok, segera hentikan! Asap merupakan pencetus utama asma, terutama bagi anak.

Seperti dikutip dari Majalah Info Asma yang diterbitkan Yayasan Asma Indonesia, ada 18 cara yang dapat digunakan untuk menghindari pencetus asma, antara lain:

1. Kasur dan tempat tidur dan bantal kapuk sebaiknya diganti busa kemudian dimasukkan dalam kantong vinil dengan risleting atau dibungkus kantong plastik dan direkat dengan selotip seperti membungkus kado.

2. Sprei, selimut, sarung bantal dan guling lebih sering dicuci minimal sekali seminggu dengan air panas (55-60 derajat C).

3. Lantai dibersihkan dengan lap basah satu kali setiap hari.

4. Tirai gorden dicuci setiap dua minggu.

5. Lemari, rak dan laci dibersihkan dengan lap basah serta paling banyak hanya boleh 3 buah buku yang diletakkan di dalamnya.

6. Ganti karpet dengan linoleum atau lantai kayu. Kalau tidak, bisa juga secara teratur dihisap dengan filter high efficiency particulate air (HEPA) dan kantung debu dua rangkap.

7. Buku, majalah dan mainan jangan ada di kamar tidur. Jika memang harus ada, maka masing-masing hanya boleh 3 buah. Lebih sedikit barang-barang tersebut di kamar tidur, itu lebih baik.

8. Boneka dan mainan yang terbuat dari kain sebaiknya dicuci dengan air panas setiap minggu.

9. Hindari asap dari obat nyamuk bakar dan asap dapur.

10. Gunakan kipas angin di dapur dan kamar mandi untuk mengusir asap dapur dan bau yang tajam.

11. Binatang peliaraan yang berbulu sebaiknya tidak ada di rumah anak yang menderita asma. Atau paling tidak binatang tersebut tidak berada di kamar tidur dan ruang utama.

12. Mandikan binatang peliaraan dua kali seminggu.

13. Pakaian paling lama jangan lebih dari 2 minggu di dalam lemari, setelah itu harus dicuci kembali atau dipindah ke kamar lain. Bila tidak memungkinkan maka dibungkus kantong plastik dan direkat selotip seperti membungkus kado.

14. Air conditioner (AC) jangan terlalu dingin dan filternya dibersihkan sekali seminggu.

15. Gunakan filter udara HEPA terutama di kamar tidur dan ruang utama.

16. Bersihkan lingkungan yang disukai kecoa seperti tempat lembab, sisa makanan, sampah terbuka dan tempat lainnya.

17. Gunakan pembasmi kecoa.
18.

Perbaiki semua kebocoran atau sumber air yang berpotensi menimbulkan jamur, seperti dinding kamar mandi, bak mandi, keran lain dan tempat lainnya.



Mari perhatikan kesehatan lingkungan hidup kita, demi terjaganya kualitas hidup penderita asam.(kompas.com)

Minggu, 10 Mei 2009

Pilih rokok atau susu anak?

ROKOK menyebabkan ketergantungan yang menjerat konsumennya tanpa pandang status sosial ekonomi penggunanya. Konsumen rokok tidak lagi mempunyai pilihan untuk menentukan apakah merokok atau menunda rokoknya demi memenuhi kebutuhan makan bagi keluarganya. Akibat ketergantungan pada rokok, kebutuhan asupan makanan bergizi bagi anak balita dalam keluarga miskin seringkali dikorbankan.

Demikian benang merah diskusi terbatas yang diprakarsai Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI), Sabtu (9/5), di Kemang, Jakarta. Diskusi bertema Kekurangan Gizi pada Balita dan Konsumsi Rokok Keluarga Miskin ini melibatkan para pakar di bidang kesehatan dan gizi, para pengambil kebijakan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi dan akademisi.

Dengan sumber daya ekonomi terbatas, 63 persen pria dewasa dari 20 persen penduduk termiskin di Indonesia mengonsumsi 12 persen penghasilan bulanannya untuk membeli rokok yang merupakan pengeluaran kedua setelah padi-padian. Data Susenas 2006 menunjukkan, pengeluaran untuk membeli rokok adalah 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur dan susu, dua kali lipat pengeluaran untuk ikan, dan 17 kali lipat pengeluaran untuk membeli daging.

Studi pada 175.859 rumah tangga miskin perkotaan di Indonesia selama tahun 1999-2003 mendapati, sebanyak 73,8 persen kepala keluarganya adalah perokok aktif, dengan pengeluaran mingguan untuk membeli rokok 22 persen yang merupakan porsi pengeluaran terbesar di atas beras. "Perilaku merokok kepala keluarga telah menggeser pengeluaran yang seharusnya untuk membeli makanan dan meningkatkan risiko gizi kurang, anak sangat kurus dan anak sangat pendek," kata Prof Farid Anfasa Moeloek.

Dalam studi sejenis pada 361.021 rumah tangga perkotaan dan pedesaan pada tahun yang sama membuktikan, kematian bayi dan balita lebih tinggi pada keluarga yang orang tuanya merokok daripada yang tidak merokok. Risiko kematian populasi balita dari keluarga perokok berkisar 14 persen di perkotaan dan 24 persen di pedesaan.

Dengan angka kematian balita 162.000 per tahun sebagaimana diungkapkan Unicef tahun 2006, maka konsumsi rokok pada keluarga miskin menyumbang 32.400 kematian tiap tahun atau hampir 90 kematian balita per hari. Dua faktor penyebab langsung kekurangan gizi pada balita adalah asupan makanan dan penyakit infeksi yang dipengaruhi kecukupan pangan, pola asuh, dan pelayanan kesehatan tidak memadai, kata peneliti dari Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, Rita Damayanti.

Kecukupan pangan berkaitan dengan ketersediaan pangan, daya beli keluarga, dan pemanfaatan pangan. Daya beli cenderung hanya dikaitkan dengan tingkat pendapatan tanpa memperhatikan bagaimana keluarga membelanjakan uangnya sehingga uang yang tersedia menjadi tidak cukup untuk membeli makanan bergizi.

Maka dari itu, untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga miskin dan dampak lanjutannya pada status gizi balita tidak cukup hanya dengan memberi tambahan uang (BLT) dan upaya ekonomi produkti lain tanpa intervensi pada pola pengeluaran rumah tangga, khususnya untuk membeli produk adiktif seperti rokok. "Karena itu, arus-utamakan masalah tembakau pada gerakan sadar gizi dan pencapaian sasaran pembangunan milenium (MDGs)," kata Roy Tjiong dari Hellen Keller International.

Arus-utamakan masalah tembakau pada pedoman hidup bersih dan sehat, jadikan sekolah dan tempat-tempat umum bebas rokok atau kawa san tanpa rokok, lipat gandakan cukai tembakau, dan tegakkan fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang larangan merokok dengan meratifikasi aksesi Konvensi Internasional Pengendalian Tembakau atau FCTC dan advokasi Rancangan Undang Undang Pengendalian Dampak Tembakau, ujarnya.
(Evy Rachmawati) WWW.tribunkaltim.co.id