Adsentra

Rabu, 13 Mei 2009

Adab berdiskusi

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Ikrimah dari Ibnu 'Abbas radliyallaahu 'anhuma bahwasannya ia berkata : "Janganlah aku mendapatkan kamu mendatangi suatu kaum sedang mereka dalam pembicaraannya, lalu kamu memberikan kisahmu pada mereka dan memotong pembicaraan mereka dengannya. Maka kamu telah membuat mereka bosan. Namun,..(duduk dan) diamlah. Apabila mereka memintamu memberi nasihat, maka berilah nasihat dimana mereka akan mendengarkannya" (HR. Bukhari no. 6337)

 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata:

“Janganlah kalian mempelajari ilmu karena tiga hal:

(1) dalam rangka debat kusir dengan orang-orang bodoh,

(2) untuk mendebat para ulama, atau

(3) memalingkan wajah-wajah manusia ke arah kalian.

 

Carilah apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan ucapan dan perbuatan kalian. Karena, sesungguhnya itulah yang kekal abadi, sedangkan yang selain itu akan hilang dan pergi.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/45)

 

Dari Nafi’ diriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang satu persoalan. Beliau menundukkan kepalanya dan tidak memberikan jawaban. Orang-orang mengira beliau tidak mendengar pertanyaannya. Laki-laki itu kembali bertanya : “Semoga Allah merahmati Anda, apakah Anda tidak mendengar pertanyaan saya ?”. Beliau menjawab : “Dengar, tapi saya melihat kalian semua beranggapan bahwa Allah tidak akan meminta pertanggung-jawaban kami atas jawaban kami atas persoalan yang ditanyakan kepada kami. Biarkanlah, sampai kami dapat memberi jawaban atas pertanyaanmu – semoga Allah merahmatimu -, bila memang kami memiliki bahan sebagai jawabannya. Kalau tidak, kami akan memberitahukan kalian bahwa kami tidak memiliki ilmu tentang hal itu” (Shifatush-Shafwah oleh Ibnul-Jauzi 1/566)

 

Dari Ayyub diriwayatkan bahwa ia berkata : “Aku pernah mendengar Al-Qasim ditanya di Mina, beliau menjawab : ‘Saya tidak tahu, saya tidak mengerti’. Setelah terlalu banyak bertanya kepada beliau, beliau berkata : ‘Demi Allah, saya memang tidak mengetahui semua yang kalian tanyakan kepada kami. Kalau saya tahu, niscaya tidak akan saya sembunyikan. Dan memang saya tidak mungkin akan menyembunyikannya’”. Dari Yahya bin Sa’id diriwayatkan bahwa ia berkata : “Aku pernah mendengar Al-Qasim berkata : ‘Kami tidak bisa mengetahui segala persoalan yang ditanyakan kepada kami. Apabila seseorang sudah menunaikan kewajibannya terhadap Allah, lalu ia hidup sebagai orang bodoh, itu lebih baik daripada ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui”

(Shifatush-Shafwah oleh Ibnul-Jauzi 2/89).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar