Adsentra

Minggu, 17 Mei 2009

SRI tak Mau Memanjakan Padi dan Petani

 

PADI sebagai jenis tanaman pangan sangat manja dengan air. Mau bersemi bibitnya, minta air. Bibit ditanam, padi minta berendam air sedalam 10-15 cm.

 

Sikap manja padi terhadap air bisa menjadi bumerang bagi masa depan para petani. Sejurus dengan stok air alam makin menipis, para pahlawan pangan memerlukan padi yang tidak cengeng bila jatah airnya hanya sedikit.

 

Sistem intensifikasi padi atau system of rice intensification (SRI) sebagai teknologi pertanian yang mengikis sikap manja padi. Budi daya pengembangan model SRI bisa diibaratkan sebagai sistem neo-konvensional karena menekankan pada basis pertanian tempoe doeloe dan bercocok tanam secara alami.

 

SRI merupakan ikhtiar yang dimotori oleh tim peneliti Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Yogyakarta. Dirintis sejak 2005, SRI telah diujicobakan di Kabupaten Sleman, Kulonprogo, Bantul, dan Kab. Gunungkidul, Provinsi Yogyakarta. Tempat uji lainnya di Provinsi Jawa Timur, antara lain di Malang, sebagai daerah berudara dingin atau sintesis dari kondisi udara empat kabupaten di Provinsi DI Yogyakarta.

 

**

 

Ajaran bertani model SRI ada lima langkah, yaitu

1) tanam bibit muda atau usia 15 hari sejak semai,

2) tanam padi tunggal atau setiap lubang 1 bibit padi dan jarak antarpadi lebih lebar dari biasanya,

3) penanaman bibit secara dangkal (1-2 cm) dengan kondisi akar tidak ditekuk, akar tanam jangan putus,

4) genangan air 2 cm atau 1 cm atau air menggenang secara macak-macak saja,

5) penyiangan dilakukan lebih awal sejak masa tanam.

 

Metode tanam padi tersebut berseberangan dengan pola tanam konvensional yang kini dipraktekkan kebanyakan petani. Yakni, cara menanam dengan lubang dalam, satu lubang diisi banyak bibit padi, tanaman padi direndam air hingga tenggelam.

 

Koordinator Penelitian SRI Dr. Sigit Supadmo, M.Eng. menyatakan, SRI merupakan terobosan budi daya padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air, dan unsur hara.

 

Suparmi, mahasiswa pascasarjana Fakultas Teknologi Pertanian UGM, tengah meneliti SRI. Dia menjelaskan, langkah SRI menerapkan tanam bibit dengan sangat sedikit air untuk mempercepat dan memperbanyak gulma tumbuh. Ini menyiasati tenaga untuk penyiangan padi lebih besar. Dengan genangan air macak-macak saja, tidak hanya menghemat air, sekaligus mengurangi dan memperlambat penurunan muka air tanah.

 

Adapun model tanam bibit tunggal bisa memperbanyak cabang tumbuhan padi dan efisien. Bila tanam konvensional pada lahan 1 hektare perlu 30-50 kg benih, SRI hanya menghabiskan 7,5 sampai 10 kg.

 

Anggota peneliti Dr. Djafar Shiddieq menambahkan, SRI meringankan beban petani dalam penggunaan pupuk. Pupuk kompos atau organik diutamakan dan uji coba membuktikan dengan sistem tanam tunggal dan jarak lebih lebar dari tanam konvensional menghemat 50 persen pupuk. Kompos juga membantu memperbaiki kondisi fisik ataupun kimia tanah dalam jangka panjang.

 

Menyangkut jenis padi yang bisa memakai metode SRI, tim peneliti merekomendasikan semua jenis bisa ditanam dengan cara ini. Kasus di Yogyakarta, para petani menanam beragam jenis varietas padi, seperti padi hibrida C4.

 

**

 

Masalah produksi tanam model SRI, para peneliti mengklaim hasil panen padinya sangat menjanjikan. Djafar Shiddieq menyebut angka panen sekitar 7,9 ton/ha. Pada tanam padi konvensional, hasil panen rata-rata hanya mencapai maksimal 6,2 ton/ha.

 

Lasiyo, petani asal Bantul yang hadir pada acara sarasehan SRI, mengamini kecanggihan metode neo-konvensional tersebut. "Metode SRI sangat membantu dari segi jumlah bibit, saya hanya perlu 8 kg, peranakan atau cabang tanaman lebih banyak dengan model jarak pada lebih lebar," ucapnya.

 

Subardi, petani Sleman, melihat sisi positif SRI dari segi efisiensi tenaga manusia. Pengalaman dia, jumlah pekerja yang dibutuhkan berkurang 1/3. Namun, Subardi dan Lasiyo mengaku, hasil panen mereka belum maksimal.

 

Lain lagi pengalaman Nuryanto, petani asal Desa Ngestiharjo, Kulonprogo. Dia mengakui, SRI mengantarkan tanam padi dengan panen mencapai 7-8 ton/ha.

 

Dia menorehkan catatan, hasil panen yang maksimal dari metode SRI harus dibarengi dengan pemilihan bibit dan seleksinya secara cermat dan hati-hati. Sebab, dia meyakini, 1/3 benih padi berlabel (unggulan) pun biasanya kondisinya tidak baik. "Saya menyeleksi dengan air garam ditampung dalam bak. Lalu masukkan telur. Bila telur mengambang, masukan bakal benih padi. Padi yang mengambang, diambil dan dibuang, jangan dijadikan bibit. Hasilnya bibit yang bagus, penennya juga begitu," kata Nuryanto.

 

Peneliti Suparmi mengakui para petani memerlukan waktu untuk menentukan sikap dalam mengubah metode tanam konvensional menuju neo-konvensional. Petani perempuan biasanya sangat kritis dalam menyikapi SRI, misalnya, soal lubang dangkal dan bibit tunggal.

 

Dengan hasil panen yang bagus, para petani di empat kabupaten di Yogyakarta terus melirik model SRI. Bahkan, para petani melombakan tanaman mereka. Ini dibenarkan oleh Subardi, petani di daerah uji coba SRI berlomba untuk menunjukkan keunggulan tanaman mereka. Siapa mau ikut lomba bersama Mbak SRI eh metode SRI? (Mukhijab/"PR")***

http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=44251

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar